Posted by: Noe | December 13, 2008

Romantisme Masa Lalu

Di sela-sela sebuah obrolan saat makan bareng dengan sejumlah teman, seorang teman saya berujar, “Saya jadi kangen dengan masa-masa ketika masih SMA. Kangen dengan nasyid, di mana-mana ada konsernya. Rela mengikuti grup nasyid kesayangan ke mana pun grup itu tampil. Membeli kasetnya. Bla.. bla.. bla… Sekarang yang seperti itu udah jarang di sini. Dan sekarang pun kita lebih sering dengerin musik pop ketimbang dengerin nasyid.” Sebuah pernyataan yang berisikan romantisme masa lalu, di mana seseorang merindukan kenangan-kenangan indah di masa yang telah lampau.

Romantisme masa lalu juga menjangkiti kebanyakan masyarakat di Indonesia. Mereka rindu dengan masa-masa kepemimpinan Soeharto. Sembako murah, pupuk murah, semua barang-barang murah. Mungkin ini yang jadi penyebab masih banyak orang-orang, khususnya yang berada di pelosok negri, yang masih mendukung penuh sebuah parpol yang pernah menaungi Soeharto (mohon maaf klo ada yang ga berkenan, saya bukan pendukung Pak Harto koq).

Saya juga ingat ketika masih SD dulu. Guru-guru saya menggembar-gemborkan sebuah romantisme masa lalu tentang kejayaan sebuah negri yang bernama Indonesia. “Indonesia itu sumber daya alamnya melimpah, dulu pernah menjadi macan Asia, dst…” Ya, kira-kira begitulah, membanggakan semua kelebihan Indonesia di masa lalu, yang ironisnya bertolak belakang dengan keadaan sekarang. Indonesia sumber daya alamnya memang melimpah ruah. Sayangnya bukan untuk kemakmuran rakyatnya, tapi untuk kemakmuran orang asing. Indonesia dulu memang macan Asia, tapi sekarang? Sama tikus aja ga berani.

img_0024

Lantas apakah salah dengan romantisme masa lalu? Jelas ga salah. Yang salah adalah manakala kita hanyut dalam romantisme masa lalu tersebut. Ibarat kita sedang mengendarai mobil, jok mobil yang kita tempati adalah masa kini, masa di mana kita sekarang berada. Kaca depan mobil adalah masa depan. Sebuah masa di mana kita harus selalu menatapnya. Masa lalunya? Masa lalu itu ibarat spion. Bolehlah kita sekali-sekali menatapnya. Cukup sekali-sekali aja. Jangan terlalu sering, apalagi selalu menatap spion. Berbahaya bagi kita yang sedang berada di mana kini dan juga berbahaya bagi masa depan kita.

Jikalau masa lalu kita adalah masa kejayaan, seharusnya kita mensyukuri itu. Setelah mensyukuri, tataplah masa depan dan bertekadlah bahwa masa depan kita haruslah lebih baik dari masa lalu dan masa kini. Jikalau masa lalu kita adalah sebuah masa yang buruk, jangan terlalu terperosok ke dalam masa lalu itu. Hidup itu bagaikan sebuah roda. Kita ga akan pernah berada di tempat yang sama di setiap masa. Ada pergiliran tempat. Mungkin masa lalu kita adalah masa lalu yang buruk, tapi yakinlah bahwa masa depan kita adalah sebuah masa depan yang baik, lebih baik. Dengan adanya rasa optimis akan masa depan yang lebih baik, maka kita akan terpacu mempersiapkan bekal di masa kini untuk mencapai sesuatu yang lebih baik di masa depan.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.